Senin, 26 September 2011

Sejarah Real Madrid

 Sudah dua musim beruntun Real Madrid hanya bisa menyaksikan Barcelona menjuarai Primera Liga dan Supercopa de Espana (Spanish Super Cup). Namun semua itu diyakini bisa segera berakhir musim ini. Sebab El Clasico edisi Spanish Super Cup selalu menguntungkan Los Blancos. Sejauh ini Real Madrid dan Barcelona baru empat kali saling berhadapan di Spanish Super Cup (Supercopa). Rivalitas keduanya pada ajang yang mempertemukan juara Primera Liga dengan (juara atau runnerup) Copa del Rey ini baru berusia 23 tahun. Pasalnya pertemuan pertama Real Madrid versus Barcelona di Supercopa terjadi pada 1988. Selama itu pula Madrid selalu sukses mempermalukan Blaugrana. Pada pertemuan pertama, Madrid yang berstatus juara Primera Liga menjamu Barcelona. Di Santiago Bernabeu, Madrid menang 2-0 lewat gol Michel dan Hugo Sanchez. Saat berlaga di Camp Nou, giliran Barcelona yang menang. Namun, karena hanya unggul agregat 2-1, El Merengues akhirnya berhak menjadi juara dengan kemenangan agregat 3-2. Sukses serupa terjadi pada 1990. Bekal menguasai Primera Liga tidak disia-siakan. Nyatanya Madrid mencatat dua kemenangan beruntun. Seusai menang 1-0 di Camp Nou, Madrid menambahnya dengan memetik keunggulan 4-1 di Estadio Bernabeu. Kedua tim juga bertemu di Supercopa 1993. Madrid lagi-lagi menunjukkan dominasinya atas Barcelona. Setelah menang 3-1 pada pertemuan pertama (kandang), Madrid memaksa Barcelona bermain imbang 1-1 (tandang). Pertemuan terakhir Madrid dan Barcelona di ajang ini terjadi pada 1997. Pada edisi itu Madrid sempat tersungkur 1-2 di Camp Nou, namun mereka membalikkan keadaan setelah menang 4-1 saat leg kedua berlangsung di Estadio Bernabeu. Dari empat pertemuan tersebut, dapat diketahui bahwa Madrid selalu menang ketika menjadi tuan rumah. Produktivitas Madrid juga sangat bagus. Mereka 17 kali membobol gawang Barcelona dan hanya kecolongan 6 kali. “Sejarah memang menguntungkan Madrid. Namun kondisi saat ini jauh berbeda. Ambisi Barcelona sangat besar saat melakoni El Clasico. Kami tidak ingin membiarkan Supercopa dimiliki Madrid. Sebab kemenangan di ajang ini selalu akan memberi suntikan semangat saat mengawali Primera Liga,” ujar Andres Iniesta kepada El Mundo Deportivo. Meski Barcelona bertekad membalas rentetan hasil negatif atas Madrid di Supercopa, hasil pertandingan dapat berkata lain. Fakta menunjukkan, Madrid tidak pernah lagi menjuarai Supercopa sejak 2008. Maklum Los Blancos urung tampil di ajang itu karena selalu gagal memenangkan Primera Liga atau Copa del Rey. Sebaliknya, masa keemasan sedang menghampiri El Azulgrana. Kini Madrid tampil lagi di Supercopa setelah merebut Copa del Rey 2010/2011. Kesempatan itu bakal digunakan untuk mengakhiri dominasi Barcelona di Spanyol. Meski bukan tugas mudah, Madrid memiliki kemampuan untuk melakukannya. Selain faktor sejarah, Jose Mourinho juga telah banyak belajar dari kekalahan-kekalahan musim lalu. Penampilan sejumlah punggawa Madrid di tur pramusim juga membanggakan. ”Kali ini kami punya pasukan yang sangat bagus. Perkembangan Karim Benzema juga jauh lebih baik dari musim lalu. Pemain yang lain ikut berkembang. Saya merasa sangat yakin dengan peluang Madrid musim ini. Kami akan meraih trofi,” ujar Mourinho kepada Marca.



Klub Spanyol paling sukses ini boleh berbangga dengan berbagai gelar yang pernah diraihnya. Terbanyak menjuarai Primera Liga Spanyol, koleksi sembilan gelar Real Madrid di Liga Champions juga belum tertandingi klub manapun. Jika Madrid di era modern identik dengan Los Galacticos, klub ibukota Spanyol ini ternyata berdiri setelah terinspirasi kaum cendekiawan. Beberapa profesor dan mahasiswa asal Inggris memperkenalkan sepakbola dan Football Club Sky pun berdiri sebagai cikal bakal klub pada 1897. Tiga tahun berselang, klub terpecah menjadi Foot-Ball de Madrid dan Club Español de Madrid. Pada 1902, klub terakhir pecah lagi dan berdirilah Madrid Football Club, yang meraih gelar Copa del Rey 1905 dan turut mendirikan federasi sepakbola Spanyol pada 1909. Barulah pada 1920, klub menggunakan nama Real Madrid yang disematkan Raja Alfonso XIII.
Pada 1929, Madrid ikut memulai liga sepakbola Spanyol bersama sembilan klub lain. Hingga saat ini, bersama Barcelona dan Athletic Bilbao, Madrid menjadi klub yang tak pernah terdegradasi dari Primera Liga. Madrid memenangi gelar liga untuk kali pertama pada musim 1931/32. Pada periode ini, Madrid dipimpin presiden Santiago Bernabeu Yeste, yang membangun kembali stadion klub dan Ciudad Deportiva setelah rusak akibat Perang Saudara Spanyol. Awal 1953, Bernabeu mencetuskan ide menggunakan pemain berkelas dunia dari luar negeri. Penyerang kenamaan Argentina, Alfredo di Stefano, didatangkan. Sejarah pun mencatat kejayaan Madrid di Piala Champions sejak kali pertama digulirkan 1956. Madrid menjadi yang terbaik di Eropa selama lima edisi berturut-turut. Gelar keenam sukses diraih pada 1966.
Kejayaan juga terjadi di kancah domestik. Madrid tak tertahankan dengan menjuarai liga delapan kali pada periode 1960-an. Madrid mampu menjaga tradisi menjuarai liga pada setiap dasawarsa hingga terakhir kali melakukannya musim 2007/08. Pada 1980-an, bersama kuintet La Quinta del Buitre; yakni Emilio Butragueno, Manuel Sanchis, Martin Vazquez, Michel, dan Miguel Pardeza; Madrid lima kali berturut-turut menjuarai liga antara 1986 hingga 1990. Namun, mereka harus menunggu lama untuk melanjutkan kejayaan di Eropa. Baru pada 1997/98, 32 tahun setelah gelar terakhir, Madrid sukses menambah koleksi Liga Champions.
Pada dasawarsa 2000-an, kebijakan mengumpulkan pemain bintang, seperti yang pernah dilakukan Bernabeu, dilanjutkan presiden Florentino Perez. Pro dan kontra lahir, tapi Madrid tetap akan dikenal sebagai klub para pemain bintang.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar